Terapi menggunakan kuda berawal dari Olimpiade Helsinki 1952. Ketika altlet Denmark, Liz Hartell, berhasil menggaet medali perak untuk nomor dressage dalam olahraga berkuda. Ternyata Liz adalah atlet lumpuh karena polio. Olahraga berkuda yang sudah dimanfaatkan untuk terapi sejak abad 17, mendapat perhatian kembali sejak pemuncukan Liz Hartell. Tahun 1960 untuk pertama kali dibenttuk pusat terapi berkuda (theurapeutic riding) di Amerika Serikat. Selanjutnya terapi di atas punggung kuda ini berkembang ke berbagai penjuru dunia. Di Belanda menyusul didirikan pusat terapi ini untuk penderita cacat fisik karena stroke, lumpuh Karena polio, penderita CP (cerebral palpsy), penyandang autis dan anak dengan kebutuhan khusus lainnya.

Dengan terapi menunggang kuda, otomatis terjalin hubungan fisik dan pikiran dengan si kuda. Kuda melangkah, berderap dalam irama tertentu secara teratur. Ini menggertak si penunggang menyesuaikan fisik (kemudian pikirannya) dengan gerakan kuda. Anak-anak dengan kebutuhan khusus, yang biasanya hanya duduk, kini dirangsang untuk belajar duduk yang benar di atas punggung kuda. Maka dia akan berusaha duduk dengan tegap, leher dan pundak ditarik ke atas, melatih tulang belakang tetap lurus, menyeimbangkan badan guna mengantisipasi gerakan kuda. Otot panggulnya akan terlatih. Dan anak tersebut belajar mengontrol gerakannya sendiri. Anak-anak yang bermasalah dengan perception sensory akan berlatih dengan cara meraba-raba badan kuda, merasakan halus, kasar, lembek tubuh kuda.

Berikut beberapa manfaat menunggang kuda bagi anak autis menurut Sharing Di Sana.

  • Merangsang komunikasi antara anak dan lingkungannya, antara lain pelatihnya.
  • Mengaktifkan control diri anak, karena anak dirangsang untuk bergerak menyesuaikan dengan gerakan kuda.
  • Mengasah sensory perception anak yang semula tumpul, merangsang syaraf motorik kasar maupun halus.
  • Berfungsi rekreatif, karena sifatnya berjalan-jalan di alam terbuka