Neuropati merupakan sebuah kondisi yang terjadi karena adanya kerusakan pada saraf di dalam tubuh. Kondisi ini bisa mempengaruhi seluruh bagian atau hanya sebagian saraf-saraf sehingga menyebabkan rasa kebas dan kesemutan di salah satu bagian tubuh. Penyebab neuropati sendiri bermacam-macam tergantung dari kondisi masing-masing penderita neuropati, ada yang disebabkan karena saraf terjepit akibat kecelakaan dan lain sebagainya.

Kondisi neuropati merupakan suatu kondisi yang sangat umum terjadi di seluruh dunia, bahkan penderitanya berasal dari berbagai golongan usia walaupun sebagian besar berasal dari orang-orang yang sudah lanjut usia.

Penderita diabetes juga memiliki kecenderungan untuk mengalami neuropati, setidaknya sekitar 60 – 70% kasus diabetes penderitanya mengalami gejala neuropati. Secara medis, sebenarnya lebih dari seratus jenis kerusakan saraf namun seluruhnya bisa dikategorikan menjadi 5 jenis neuropati, yaitu neuropati kranial, neuropati perifer, neuropati proksimal dan neuropati fokal. Berikut adalah penjelasan lengkapnya mulai dari penyebab hingga gejalanya:

1. Neuropati perifer
Jenis neuropati yang satu ini adalah jenis neuropati yang paling sering diderita oleh masyarakat Indonesia. Kondisi neuropati perifer sendiri disebabkan karena adanya kerusakan pada sistem saraf perifer yang berada di otak dan juga tulang belakang. Kerusakan saraf tersebut mempengaruhi saraf-saraf yang ada di tangan, kaki, lengan dan juga jari-jari. Neuropati perifer masih terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu mononeuropati (hanya satu saraf yang mengalami kerusakan) dan polineuropati (beberapa saraf mengalami kerusakan).

2. Neuropati proksimal
Hanya sebagian masyarakat saja yang mengalami neuropati proksimal, kondisi ini lebih banyak menyerang tubuh bagian pinggang, paha dan juga pantat. Biasanya kondisi ini hanya terjadi pada salah satu bagian tubuh saja dan jarang sekali menyebar ke bagian tubuh lainnya. Neuropati proksimal lebih banyak menyerang orang-orang yang memiliki gula darah dan juga kolesterol (trigliserida) yang cukup tinggi.

3. Neuropati kranial
Kerusakan yang terjadi pada neuropati kranial lebih berbahaya daripada jenis neuropati lainnya karena
kerusakan saraf terjadi pada otak. Apabila sampai menderita kondisi ini, maka area wajah dan mata akan mengalami penurunan kemampuan gerak, biasanya disebut juga dengan nama Bell’s Palsy.

4. Neuropati otonom
Saraf yang rusak adalah saraf yang mengatur sistem ekskresi, jantung, suhu tubuh, sistem pencernaan, fungsi organ reproduksi, kelenjar keringat dan juga sirkulasi darah.

5. Neuropati fokal
Kasus pada jenis neuropati yang satu ini tidak terlalu banyak, tidak sebanyak pada neuropati perifer.
Kerusakan saraf yang terjadi biasanya berada pada bagian kepala, pergelangan tangan dan juga kaki, namun terkadang juga bisa menyerang bagian tubuh lainnya seperti area mata, dada dan juga punggung. Salah satu contoh penyakit yang disebabkan oleh neuropati fokal adalah CTS (Carpal Tunnel Syndrome).

Dari penjelasan diatas sudah bisa anda simpulkan bahwa gejala yang muncul pada penyakit neuropati bisa berbeda-beda tergantung dari lokasi saraf yang rusak dan juga jenis neuropati yang diderita. Bila gejala neuropati muncul secara tiba-tiba, maka akan disebut neuropati akun. Sebaliknya bila gejala tersebut berkembang setiap waktunya, maka akan disebut sebagai neuropati kronis.

Di atas sudah dijelaskan gejala-gejala yang muncul sesuai dengan kondisi neuropati yang diderita, sekarang akan dijelaskan gejala-gejala yang muncul berdasarkan jenis saraf yang rusak:

1. Saraf otonomik
Saraf ini memiliki tugas untuk mengontrol seluruh aktivitas tubuh yang berjalan secara otomatis seperti
bernapas. Ketika terjadi kerusakan pada saraf ini, gejala-gejala yang muncul berupa pusing, sembelit, mata dan mulut terasa kering, tidak mampu merasakan nyeri di area dada, disfungsi seksual dan juga disfungsi kandung kemih.

2. Saraf motorik
Saraf motorik memiliki peran dalam mengontrol gerakan tubuh. Ketika mengalami gangguan, gejala yang muncul berupa kejang, lemas, atrofi otot, dan juga kelumpuhan.

3. Saraf sensorik
Dari namanya sudah terlihat bahwa jenis saraf ini memiliki fungsi untuk mengirimkan sinyal ke otak dan sebaliknya. Ketika saraf sensorik rusak, gejala yang muncul adalah adanya rasa nyeri padahal tidak ada luka, mati rasa, kesemutan, rasa terbakar dan mengalami gangguan kesadaran terhadap posisi tubuh.