Bagi orang awam, berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus memang terkadang terasa sulit. Di Indonesia, kasus diskiriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus masih sangat sering terjadi. Tidak hanya di kota-kota kecil tetapi juga di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan kota besar lainnya di Indonesia yang sudah mendapatkan pendistribusian informasi dengan baik. Tidak hanya oleh rakyat yang kurang mendapatkan edukasi yang cukup, tetapi juga oleh beberapa perusahaan transportasi umum.

Jika kita mencari tau lebih dalam lagi di Internet, masih sangat banyak kasus kasus diksriminasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, salah satunya adalah kasus seorang anak berkebutuhan khusus yang ditolak sebuah sekolah saat mendaftar tanpa alasan yang jelas. Bagaimanapun juga, anak berkebutuhan khusus adalah manusia. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial. Dalam sosiologi, mahkluk sosial adalah sebuah konsep ideologis dimana masyarakat atau struktur sosial dipandang sebagai sebuah organisme hidup. Semua elemen masyarakat atau organisme sosial memiliki fungsi yang mempertahankan stabilitas dan kekompakan dari organisme. Dengan kata lain, manusia tergantung satu sama lainnya untuk menjaga keutuhan masyarakat. Begitu pula dengan anak-anak berkebutuhan khusus, mereka ingin ikut terlibat dalam dunia disekitarnya dan ingin mendapatkan perhatian dari orang-orang disekitarnya. Juga seperti orang pada umumnya, anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki emosi, bisa merasa sedih, senang, malu, gugup, dan lainnya.

ABK atau anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memerlukan perhatian, kasih sayang yang lebih spesifik, baik itu di lingkungan rumah dan sekolah. Spesifikasi tersebut ada karena memiliki berbagai hambatan dalam pertumbuhannya dan memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya.

Ada banyak jenis anak berkebutuhan khusus, diantaranya adalah berikut ini :

1. Tunanetra
Tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

2. Tunarungu
Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

3. Tunalaras
Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain.

4. Tunadaksa
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

5. Tunagrahita atau down syndrome

Tunagrahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata (IQ dibawah 70) sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. Hambatan ini terjadi sebelum umur 18 tahun. Tuna grahita ini masih dibagi menjadi dua, yakni tuna grahita biasa dan tuna grahita down sindrom atau down syndrome. Down syndrome pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Ciri-cirinya tinggi badan yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongoloid maka sering juga dikenal dengan mongolisme. Pada tahun 1970-an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali sindrom ini dengan istilah sindrom Down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.

6. Cerebral palsy
Gangguan / hambatan karena kerusakan otak (brain injury) sehingga mempengaruhi pengendalian fungsi motoric

7. Gifted
Adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal).

8. Autistis atau autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebanak berkebutuhan khususan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.

9. Asperger Disorder atau AD

Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Bedanya, gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah High-fuctioning autism. Adapun hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme. Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada great rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin.

10. Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan
penderitanya adalah perempuan.

11. Attention deficit disorder with hyperactive atau ADHD

DHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau
menirukan ejaan huruf.

12. Lamban belajar atau slow learner

Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespons rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas lebih mendalam mengenai autisme dan sindrom down. Masih banyak orang yang enggan atau ragu untuk berkomunikasi dengan anak autis karena khawatir akan tantrum. Rasa takut tersebut muncul karena orang-orang tidak paham betul bagamiana cara berkomunikasi yang tepat dengan anak bekebutuhan khusus. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kasus diskriminasi di Indonesia.

Autisme
adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas dan kadang-kadang telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. Deteksi dan terapi sedini mungkin akan menjadikan si penderita lebih dapat menyesuaikan dirinya dengan yang normal. Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang merupakan bagian dari gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebanak berkebutuhan khususan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya
otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autisme. Autisme adalah yang terberat di antara PDD.

Berbeda dengan autisme, down syndrome adalah sebuah penyakit dengan kondisi kelainan kromosom yang terjadi sejak dalam kandungan. Kelainan ini dapat disebanak berkebutuhan khususan oleh gen kedua orang tua atau kesalahan mengonsumsi jenis makanan pada saat ibu mengandung. Rata-rata IQ para penyandang down syndrome di bawah IQ normal, yaitu hanya sekitar 50-60 saja.

Penderita autisme tidak dapat dilihat ketika bayi baru lahir, tetapi penderita down syndrome sejak lahir sudah terlihat dari bentuk wajahnya yaitu sudut luar mata naik hingga menyipit, serta hidung dan mulut kecil. Dan biasanya, penyandang down syndrome juga memiliki kelemahan fungsi fisik lainnya, misalnya saja pada jantung.

Ingat, penyandang autis dan down syndrome membutuhkan penerimaan yang baik dari lingkungannya untuk membuat hidup mereka lebih baik. Sebagai langkah awalnya, mengenali perbedaan autis dan down syndrome melalui informasi di atas tentu bisa jadi ‘panduan’ bagi anda.

Sesudah memahami asal usul munculnya autisme dan sindrom down tersebut, ada baiknya untuk mengetahui cara yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus.

1. Menyebut nama mereka ketika ingin berkomunikasi

Jangan kaget ketika seorang anak berkebutuhan khusus memanggil nama kamu secara lengkap. Mereka memang membutuhkan sesuatu yang lengkap, begitu pun dengan nama. Agar komunikasi dengan mereka berjalan lancar, coba panggil nama mereka saat ingin mulai berkomunikasi. Jangan hanya dengan memanggil “Hey, kamu” atau  panggilan lain yang tidak pasti kepada siapa kamu memanggil. Hal tersebut mempermudah mereka untuk menangkap panggilan yang kamu tunjukkan.

2. Membahas topik spesifik dan jelas

Jika kamu sering membahas banyak hal dengan teman-teman tanpa arus yang jelas, maka hal tersebut sebaiknya jangan dilakukan dengan anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus membutuhkan segala sesuatu yang spesifik dan jelas. Coba untuk membahas topik yang spesifik dengan mereka. Misalnya, jika kamu ingin berbincang mengenai musik, fokuslah pada genre musiknya atau mengenai alat musiknya. Jangan menyatukan kedua hal tersebut.

3. Kontak mata secukupnya

Kontak mata merupakan suatu kewajiban saat berkomunikasi. Tetapi, jangan samakan pelakuan tersebut kepada anak berkebutuhan khusus. Jangan memberikan kontak mata yang terlalu sering kepada mereka. Hal tersebut bisa membuat mereka tidak nyaman dan terintimidasi. Jika sudah begitu, mereka akan sering menunduk dan tidak ingin berbicara.

4. Hindari terlalu banyak memberi kebisingan dan sentuhan

Sama dengan kontak mata, mereka juga sensitif dengan kebisingan, sentuhan, dan juga bau. Tidak seperti kebanyakan anak lain yang lebih menikmati suasana luar yang ramai, anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang lebih suka suasana tenang. Coba juga untuk menahan sentuhan kepada mereka. Seperti menyentuh bahu dan tangan ketika berkomunikasi. Mereka akan merasa ketakutan ketika banyak disentuh.

5. Sabar menunggu jawaban diberikan

Ketika mereka diberikan pertanyaan, butuh waktu bagi mereka untuk menyerap apa yang ditanya hingga bisa menjawabnya. Untuk itu, kamu yang bertanya harus bersabar menunggu jawaban tersebut. Saat mereka belum menjawab, jangan memiliki prasangka lain terdahulu atau bahkan langsung mengganti topik pembicaraan. Berikan pertanyaan satu persatu dan tunggu jawaban sebelum memberikan pertanyaan lainnya.

Setelah memahami penyebab dari autisme dan sindrom down tersebut beserta cara yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus, tidak akan ada lagi alasan untuk ragu berbicara dengan mereka karena takut akan menimbulkan tantrum. Mari kita bersama-sama mengurangi angka diskriminasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, karena mereka jua manusia yang membutuhkan perhatian dari lingkungan sekitarnya, mereka juga bisa merasa sedih apabila dikucilkan atau dianggap rendah. Karena pada dasarnya semua manusia itu sama, sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.