autism

Jakarta – Penanganan yang tepat dan dukungan dari lingkungan kepada penyandang autisme dapat membawa dampak besar bagi masa depan mereka. Tetapi masih banyak masyarakat yang memiliki cara pandang keliru terhadap autisme karena mereka menunjukan tingkah laku yang berbeda dan kesulitan untuk berkomunikasi, namun sebenarnya anak autisme memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan.

Beberapa yayasan,pusat terapi dan lembaga yang berfokus menangani autisme melakukan berbagai cara untuk menggalang kesadaran masyarakat agar dapat menerima penyandang autisme karena keterbatasannya. Salah satu nya melalui seminar-seminar dan mengadakan acara untuk memperingati hari Autisme, seperti Walk for Autism (10/5) yang dilakukan oleh Yayasan Autisma Indonesia(YAI) dengan mengambil tema “Kami Bisa Berkarya”. Kesadaran untuk mendukung dan menerima para penyandang autisme perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka bisa mengerti dan memiliki cara pandang yang benar.

Selain dukungan dari lingkungan sekitar untuk menerima mereka apa adanya, penanganan yang tepat juga sangat diperlukan. Orang tua memainkan peranan yang penting dalam hal ini. Penanganan melalui terapi harus diberikan dan dijalankan sedini mungkin oleh para penyandang autisme agar tingkah laku dan komunikasi mereka yang kurang baik dapat segera di perbaiki sebelum menjadi suatu kebiasaan. Penanganan di pusat terapi biasanya dilakukan dengan metode ABA (Applied Behavior Analysis) dimana 1 orang penderita autisme akan ditangani oleh 1 guru agar lebih efektif, tetapi keterampilan yang diberikan di setiap pusat terapi berbeda-beda, mulai dari terapi tingkah laku,terapi wicara dan lain-lain. Semakin tahun, pusat terapi yang ada semakin banyak dan semakin baik kualitasnya, namun biasanya terapi ini terhalang karena masalah biaya seperti yang di ucap oleh Ibu Erni, staff YAI, saat diwawancara pada hari Senin (4/5). Terapi secara intensif diperlukan oleh para penyandang autis, namun hal ini menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Hasil terapi yang intensif memberikan dampak yang besar, salah satunya adalah anak dapat mengikuti sekolah umum. Biasanya penyandang autisme belajar di sekolah khusus untuk anak berkebutuhan khusus dengan metode belajar yang berbeda. Namun jika penanganan yang tepat sudah dilakukan secara intensif sejak dini, kebanyakan anak dapat mengikuti sekolah normal pada umum nya. Dukungan dari orang-orang disekitar sekolah sangat dibutuhkan agar mereka bisa terus memiliki semangat untuk berjuang dan mengikuti pelajaran dengan baik.

Salah satu kisah sukses berasal dari Osa yang berhasil membuktikan dirinya mampu menempuh pendidikan formal seperti anak-anak normal pada umumnya meskipun dia seorang penyandang autisme. Dukungan terus menerus dari orang tua dan orang-orang disekelilingnya membuat pria kelahiran tahun 1989 ini bisa menyelesaikan pendidikan S1 nya jurusan Arkeologi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan akan melanjutkan S2 nya. Perjuangan Osa hingga bisa menempuh tantangan dan rintangan yang ada ini dicatat dan dibukukan oleh ibunda nya, Herniwatty Moechiam, dalam buku yang berjudul “Tumbuh di Tengah Badai”.

 

 

Artikel oleh  : Amelia Stephanie