Kamu itu budak, diperbudak, atau memperbudak? Siapa bilang kita sudah hidup di jaman tanpa perbudakan? Hanya karena TV-TV dan gadget tidak mempertontonkan manusia yang tengah diperjual belikan atau online shop instagram tak menawarkan manusia-manusia ready stock, lantas kita merasa bahwa semua manusia sudah sepenuhnya merdeka. Di mata saya, sisa-sisa perbudakan masih saja terpampang di sana-sini. Mungkin saja, mungkin saya dan kamu ikut terlibat dalam salah satu bentuk perbudakan yang menjelma entah dalam rupa apa. Entah jadi pelaku budak, diperbudak atau memperbudak.

 

Jangan merasa paling suci dulu lalu bilang tidak mungkin, siapa coba di antara kita yang tak kenal istilah lapar tapi mager? Lapar tapi malas gerak untuk membeli makanan adalah salah satu alasan yang membuat bisnis pesan antar makanan menjadi semakin marak. Berapa banyak restoran yang akhirnya menarik budak karyawan baru cuma buat nganterin makanan ke rumahmu?

 

Jadi, pesan delivery makanan artinya memperbudak? Oh, sebenarnya kita semua ini budak. Ada yang menjadi budak keluarga, budak nafsu, atau budak ideologi, yah macam-macam. Yang mau saya perlihatkan di sini adalah kadang antar sesama budak kita sering lupa dan merasa jadi Tuan dari budak lain. Padahal ya tadi, statusnya sama-sama budak. Cuma karena sudah bayar buat nganterin makanan, merasa langsung naik pangkat menjadi majikannya si mas-mas delivery. Lalu, seenaknya marah-marah, merendahkan, dan merasa lebih mulia.

 

Oh please, jangan bicara soal Hak Asasi Manusia dulu jika pada mereka yang mengantarkan makanan saja kamu masih berlaku semena-mena. Mungkin pekerjaannya kamu anggap tidak sepenting pekerjaanmu, tapi dia masih manusia yang berhak memperoleh sopan santun. Berhak diperlakukan seperti layaknya kamu ingin diperlakukan.

 

Makanannya terlambat datang dua puluh menit? Atau lebih? Lalu karena sudah terlanjur emosi dan merasa terzalimi, kita kadang langsung merasa menjadi Tuan serta merta langsung memperlakukan pengantar pizza sesuka hati. Memperbudak .

 

Saya tidak membenarkan keterlambatan pengantar makanan, bagaimanapun keterlambatan mereka memang suatu kesalahan. Apalagi jika dari perusahaan yang bersangkutan sudah menjanjikan berapa lama waktu pesan antar makanannya. Saya hanya mengharapkan bahwa mereka yang sudah terdidik, dapat menyampaikan keluhannya dengan cara peringatan yang lebih manusiawi. Kita tak pernah tau apa yang harus dihadapi pengantar makanan itu selama di perjalanan. Kita tahu bagaimana tidak ramahnya jalanan Jakarta. Betapa tidak menyenangkannya harus berkejar-kejaran dengan panas, macet dan perilaku pengendara lain.

 

Belum lagi jika memang alamat rumahmu memang sulit untuk ditemukan. Patut dijadikan pertimbangan bahwa pengantar pizza ini tidak dilengkapi dengan gadget yang mumpuni untuk membantu mereka mencari alamat-alamat rumah. Kadang yang dibutuhkan cuma sedikit rasa pengertian, kok, dan sedikit keinginan mencari tau. Tidak sedikit bukan yang berkoar-koar di media sosial, padahal untuk tahu hanya dibutuhkan gerakan sedikit jari di layar gadget. Misalnya saja layanan pesan antar pizza milik domino’s ini. Tinggal cari info ini, ketahuanlah sudah dimana makanannya. Tidak perlu mencak-mencak dan berubah jadi manusia yang tidak manusiawi segala.

 

domino pizza

 

Pengantar makanan mana sih yang mau terlambat? Di Australia, seorang pengantar pizza bahkan harus rela kena tilang dan dicabut izin mengemudinya selama 15 bulan karena melewati batas kecepatan. Keselamatan saja diterobos demi kepuasan majikan, kalau bukan diperbudak saya tak tahu harus memberinya nama apa lagi. Profesionalitaskah? Hah!

 

pizza2

 

 

Yang paling mengejutkan bagi saya adalah berita mengenai pengantar pizza yang dibunuh di Mexico. Gila! Hanya karena terlambat mengantarkan makanan saja seorang ibu harus kehilangan anaknya, seorang adik merelakan abangnya, dan mungkin saja seorang istri harus menjadi janda dan anak yang masih kecil-kecil terpaksa menjadi yatim. Kita masih hidup di hutan rimba atau bagaimana? Sekarang siapa yang jamin dan bilang kalau perbudakan memang sudah murni dihapuskan?

 

 

pizza1

 

Ada berapa jenis pekerjaan yang tanpa sadar sudah kita remehkan? Ada berapa pengantar makanan yang menjadi korban kemarahan kita, hanya karena keterlambatan yang tidak mereka sengaja? Apa mau selamanya bermain permainan budak, diperbudak atau memperbudak ini? Saya sih, ogah.

 

Artikel oleh Alfi Ramadhatillah