Memanglah tidak mudah memiliki anak. Lebih sulit daripada bekerja dan menghadapi berbagai persoalan di kantor ataupun tempat kerja kita. Bedanya adalah ada syarat kelulusan sekolah untuk mempelajari hal-hal yang kita kerjakan sekarang. Ada syarat kelulusan untuk  bidang-bidang seperti dokter, teknik, ekonomi, design, seni, dan lain-lain. Tetapi untuk menikah dan memiliki anak, tidak ada syarat kelulusannya bukan? Persoalan inilah yang membuat kita kerap kali kebingungan dalam membina dan mendidik anak. Seorang anak diibaratkan seperti sebuah gelas kosong, yang kita isi dengan air(didikan kita), lalu pada akhirnya air tersebut kita minum sendiri. Jadi, jika kita salah dalam mendidik anak, akibatnya bisa terlihat dan kita sendiri yang merasakannya. Contoh: anak menjadi brutal, pergaulan bebas, tidak berhasil, dan lain-lain

Pikiran anak-anak memang kompleks dan sulit dijangkau. Waupun kita memiliki niat dan maksud yang baik untuk mendidik anak kita, tetapi ajaran tersebut bisa diserap secara negatif bagi anak kita.  Contohnya adalah saat anak kita yang balita memukul dan menendangi ataupun melempari kita dengan sesuatu, lalu kita langsung memukuli anak kita, mungkin maksud kita adalah: “Sakit kan kalau dipukul? Makannya jangan pukul orang ya.” Tetapi situasi ini bisa disalah artikan oleh anak.

Anak bisa belajar bahwa jika kita diperlakukan yang tidak baik, kita harus membalasnya (balas dendam). Bam!! Hanya sekejap saja, anak kecil yang awalnya tidak tahu apa-apa langsung belajar hal yang baru, yaitu balas dendam. Tentu sangat sulit bukan? Berikut ada 5 tips untuk orang tua dalam mendidik anaknya.

1. Jangan gunakan kekerasan

Memukuli anak kerap kali dianggap menjadi jalan pintas bagi orang tua agar anak berhenti melakukan hal yang negatif dan mau menuruti perintah kita. Tetapi, hal tersebut bisa berujung pada akibat yang buruk untuk sang anak. Anak yang sering dipukul akan mengalami depresi dan kepercayaan diri yang rendah. Anak menjadi tidak akan belajar bahwa yang diperbuatnya salah dan harus memperbaiki diri dari kesalahannya tersebut. Malah, anak yang dididik dengan kekerasan juga akan menghasilkan anak yang bersifat keras, yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan pula. Anak-anak juga akan memiliki rasa dendam dan kepahitan yang sulit hilang terhadap orang tua nya jika dilakukan terus menerus.
parenting

2. Stop Gunakan Kata-kata yang Negatif

Anak-anak rentan terhadap hal-hal yang diucapkan terhadap dirinya. Mungkin yang kita ucapkan adalah hal-hal yang tidak kita anggap penting. Contohnya adalah saat kita tidak sengaja mengucapkan kata “Dasar anak bodoh! Masa dia bisa kamu tidak bisa?”, atau “Dasar anak tidak berguna!” Mungkin bagi kita, itu adalah kata-kata yang dikeluarkan secara refleks dan tidak berarti apa-apa, tetapi bagi si anak, ia akan merasa bahwa dirinya bodoh dan merasa rendah dibanding teman-teman lainnya. Efek ini akan berlangsung selama bertahun-tahun lama nya jika tidak segera diatasi. Jangan mengomeli anak dengan kata-kata kasar karena ia akan sulit membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Tetapi, gunakanlah kata-kata yang positif dan membangun, seperti “Kamu hebat kok nak! Hanya saja, kamu kurang latihan makannya ketinggalan sama yang lain. Lain kali lebih giat lagi ya.” Kata-kata yang seperti itu akan sangat memotivasi anak dan berdampak positif. Bayangkan, anak yang diberikan kata-kata positif bertahun-tahun dibandingkan dengan diberikan kata-kata negatif. Pasti anak tersebut akan memiliki cara pandang yang sangat berbeda terhadap dunia ini.
parenting1

3. Memberikan Instruksi Tanpa Menggunakan Kata “Jangan”

Pernahkah kita saat memerintahkan anak untuk jangan berlari malah anak semakin berlari kencang? Sistem pembelajaran otak anak adalah sebuah pembelajaran melalui gambaran, bukan kata-kata. Jadi saat kita bilang “jangan nonton tv sampai larut malam”, maka anak akan membayangkan untuk menonton tv sampai malam. Gunakanlah kata-kata seperti “Nonton tv nya sampai jam 8 saja ya, setelah itu langsung tidur, nanti besok mau bangun pagi”. Kata-kata tersebut membuat anak membayangkan untuk menonton tv sampai jam 8 saja, lalu ia akan membayangkan bahwa ia harus bangun pagi besok. Jadi, semakin banyak yang bisa digambarkan oleh si anak, maka pesan tersebut akan diterima dengan baik.
parenting2

4. Jadilah Contoh Untuknya

Lakukanlah hal-hal yang baik di depannya agar bisa menjadi contoh dan ditiru oleh sang anak. BIasakan mengucapkan kata “terima kasih” terhadap anak dan jangan ragu untuk mengucapkan kata “maaf” apabila kita melakukan kesalahan di depan si kecil. Dengan begitu, anak akan meniru apa yang diperbuat orang tua nya. Jangan membuat anak menjadi bingung dengan menasihati anak untuk tidak merokok, tetapi orang tua nya malah merokok. Dengan begitu, anak akan menjadi bingung dan tidak bisa membedakan hal yang benar dan tidak. Dengan memiliki gambaran sosok orang tua yang baik, anak pun akan tumbuh menjadi anak yang baik. Penelitian menunjukkan bahwa 70% orang pelaku kriminal adalah orang-orang yang memiliki gambaran sosok orang tua yang rusak (dikutip dari film “Courageous”).

parenting3

5. Komunikasi yang baik

Saat anak memasuki usia sekolah, lalu beranjak remaja, maka kita sebagai orang tua memasuki tahap kesulitan level yang lebih tinggi. Berbagai perubahan perilaku dan gaya bicara anak pun terlihat karena ditentukan oleh lingkungan bermain si anak tersebut. Kita sebagai orang tua dapat mengontrol dan mendidik sejak dini agar berteman dengan teman-teman yang benar dan sebaya.  Oleh karena itu, komunikasi antara orang tua dan anak harus terjalin dengan baik. Orang tua harus menjadi sarana curhat yang nyaman bagi sang anak, jangan sampai anak kita malah enggan berbicara dengan kita. Komunikasi 2 arah harus terjalin agar kita dapat mengawasi dan mengontrol perkembagan anak kita, lalu kita dapat memberikan masukan-masukan untuk setiap permasalahan yang dihadapi sang anak. Tunjukkanlah kasih sayang padanya, dan habiskanlah waktu bersamanya seperti jalan-jalan, menonton, dan membangun hubungan yang baik untuk berkomunikasi dengannya.

family

Jadi, mendidik anak haruslah dengan berhati-hati. Tunjukkanlah kasih sayang pada si kecil, agar ia bisa tumbuh sehat secara jasmani dan rohani. Happy parenting!

 
Artikel : Tulisan Pribadi by Dicky Liu

Gambar: Google Image