Classrooms-without-walls

Indonesia yang masuk dalam jajaran Negara paling berpolusi no 3 sedunia, setidaknya boleh berbangga hati. Di tengah mirisnya pendidikan di negeri ini, sebuah inovasi baru dibidang pendidikan Indonesia lahir dan hadir di Bali, jantung pariwisata negeri kita.

Green School atau Kul- Kul Campus. Yang terletak di desa Sibang Kaja, 30 km dari pusat kota Denpasar. Sebuah sekolah unik yang dibangun oleh John Hardy, seorang desainer dan pengusaha jewelry yang sukses.

Sekolah unik nan ajaib ini merupakan satu-satunya sekolah didunia yang bangunannya hanya menggunakan bambu, rumput gajah dan tanah liat. Semen yang digunakan hanya dibeberapa tempat di yayasan. Sekolah ini mungkin merupakan bangunan terbesar didunia yang  dibangun seluruhnya berbahan bambu. Dimensinya adalah 18 meter dan tingginya 64 meter. Pendingin udaranya tidak lagi menggunakan Air Conditioner, melainkan kincir angin melalui terowongan bawah tanah. Tenaga listriknya menggunakan bio-gas yang terbuat dari kotoran hewan untuk menyalakan kompor. Tambak udang tempat budidaya, sekaligus peternakan sapi. Ditambah lagi arena olahraga, laboratorium, perpustakaan, dll.

Kemudian yang tidak kalah uniknya adalah jembatan bambu yang dibangun membentang ditengah – tengah sekolah, yang dibawahnya mengalir sungai Ayung. Sekolah ini memang memiliki visi yang sangat menarik dan go green yaitu berinteraksi dengan Alam. Tampaknya mengingat cara kita mencemari bumi, setiap orang harus berkunjung ke sekolah ini.

Setiap murid diajarkan untuk dekat dengan alam, dimulai dari cara menanam padi, memproduksi coklat sendiri. Semua itu tak lepas dari harapan agar murid – murid mereka mengerti tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan mampu menjadi pemimpin di dunia yang memberikan pengaruh besar bagi penghijauan dunia.

Pendeknya, mereka para pelajar yang terdiri dari penjuru dunia akan tahu segala hal dari organic gardening hingga mendesain website, dari menjalankan bisnis kecil hingga menekan emisi karbon, menjadi orang yang berkontribusi bagi kesadaran global dan dapat dipercaya mengelola kehidupan dengan lebih baik ditengah krisis bumi ini.

Untuk harga, orang tua yang mampu menyiapkan uang untuk registrasi sebesar $ 500, uang bangunan tahunan $ 950 dan untuk grade I-VI harus membayar uang sekolah per tahunnya $ 7.950 adalah syarat untuk menyekolahkan anaknya di Green School Bali, tidaklah heran bila murid – muridnya sendiri lebih banyak terdiri dari kaum ekspatriat dan orang asing karena harganya yang dinilai cukup tinggi. Sekolah yang berdiri 2 bulan lalu ini juga menyediakan beasiswa pendidikan.

Di sisi yang lain seharusnya keberadaan Green School menginspirasi pemerintah dan swasta untuk membuat sekolah yang mirip namun lebih affordable dalam biaya.

Kita sebagai anak negeri, sangat miris rasanya melihat anak – anak bule yang terkenal bersih itu mau bermain-main dengan lumpur dan duduk lesehan dia tas tikar, kemudian mampu bercocok tanam, menanam padi, dan membudidayakan udang. Sedangkan kita mungkin masuk ke lumpur saja tidak pernah, apalagi menanam padi. Padahal bercocok tanam merupakan identitas bangsa kita sebagai Negara agraris. Jadi kita harus mulai bergerak untuk memajukan negeri ini.

Andai kata sekolah di negeri ini seperti Green School, mungkin tidak akan adalagi yang namanya illegal logging dan pembabatan hutan secara liar, karena sejak kecil mereka telah diajarkan bagaimana cara mencintai alam.

 

By Sharfina Hadyanti