autis

Menjadi orang tua bukanlah tugas yang mudah, terlebih pada sebagian orang tua yang dianugerahkan anak dengan special needs. Ketika para anak berkebutuhan khusus diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan mengasah kemampuan diri maka istilah kebutuhan khusus dapat berubah menjadi kelebihan khusus. Bukan lagi hal yang mustahil anak autistik dapat duduk di bangku Perguruan Tinggi dengan status sebagai mahasiswa dan disandingkan dengan mahasiswa normal lainnya. Prita Kemal Gani, founder dari London School of Public Relations Jakarta mengungkapkan ada dua jenis anak autistik yaitu dengan high & low intelligence, para anak autistik dengan low intelleigence bukan tidak mampu belajar dengan baik namun disebabkan oleh alat sensorik yang mereka miliki sangatlah peka sehingga perlu tindakan intervensi berupa pelatihan ataupun terapi agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar sehingga proses belajar dengan baikpun dapat terlaksana.

Pemerintah belum lama ini merilis sebuah angka jumlah penderita autistik di Indonesia mencapai kisaran 112 ribu jiwa dan diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya. Namun, sudah banyak pula universitas yang mau menerima penyandang autistik sebagai mahasiswa. Universitas Atmajaya sempat mencatat Oscar Yura Dompas sebagai alumnus jurusan Pendidikan Sastra Inggris, bahkan selulusnya dari pendidikan lanjutan yang ia ambil, Oscar menulis serta menerbitkan buku yang berjudul Autistic Journey dan The Life of the Autistic Kid Who Never Gives Up yang membawanya mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai penyandang autis yang meraih gelar sarjana dan menulis buku berbahasa Inggris. Selain itu, belum lama ini adapula Natrio Catra Yoshosha yang mampu menyelesaikan pendidikannya pada Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Gajah Mada (UGM).

Pada akhir perbincangan Prita kembali menengaskan, dukungan dari keluarga, sahabat, teman-teman satu lingkungan memiliki kekuatan yang kuat bagi keberhasilan pendidikan yang mereka ambil. Menyoal pada gelar sarjana bukanlah hal terpenting dari apa yang harus didapatkan oleh anak-anak autistik, namun lebih kepada tindakan pelatihan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan agar para anak autistik mampu hidup secara mandiri bahkan siap untuk memasuki dunia kerja.

 

Artikel oleh Agustina P. Lutfita