Penggunaan ponsel terlalu sering telah lama disebut-sebut dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Gangguan kesehatan tersebut disebabkan oleh pancaran gelombang elektromagnetik yang berasal dari ponsel. Pancaran gelombang elektromagnetik tersebut memiliki frekuensi antara 450-1800 Mhz yang mana termasuk dalam daerah gelombang mikro dengan jenis radiasi non-ionisasi. Apabila dihitung, kuantitas kuantum radiasi elektromagnetik ponsel tergolong relatif kecil. Hanya saja, jika jarak pancaran radiasi pada kepala, khususnya telinga serta frekuensi penggunaan diperhitungkan, maka dampak reaksi elektromagnetiknya tidak dapat diabaikan begitu saja.

radiasi ponsel

radiasi ponsel

Ada berbagai macam kelainan dan gangguan kesehatan yang berpotensi timbul akibat radiasi dari ponsel, diantaranya adalah kanker, tumor otak, Alzheimer, Parkinson, dan fatigue (cepat lelah). Di antara gangguan kesehatan tersebut, tumor otak dianggap yang paling memungkinkan terjadi. Mengutip dari pernyataan Dr L Dade Lunsford, profesor bedah saraf spesialis manajemen tumor otak di University of Pittsburgh yang dilansir dari laman Reuters bahwa sudah banyak penelitian yang menunjukkan resiko tumor dengan penggunaan ponsel terlalu sering, tetapi studi menemukan tidak ada bedanya antara pengguna ponsel regular/moderat dengan bukan pengguna regular.

Namun di masa teknologi, informasi, dan komunikasi yang berkembang pesat seperti saat ini, penggunaan ponsel tidak mungkin dihilangkan dari daftar kegiatan sehari-hari. Ponsel sudah merupakan barang primer bagi masyarakat modern. Oleh karena itu, penting hukumnya bagi masyarakat yang bersahabat dengan ponsel untuk mengetahui cara-cara sederhana untuk meminimalisir bahaya radiasi ponsel tersebut.

Atur ke Mode offline

Sebaiknya mematikan ponsel ketika sedang tidak digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk meniadakan transmisi nirkabel. Namun apabila terlalu sering mematikan ponsel dianggap dapat membuat ponsel cepat rusak, setidaknya gunakan fungsi Airplane mode saat ponsel dalam keadaan stand-by.
Pakai Telinga Secara Bergantian

Ketika Anda diharuskan menelepon dalam jangka waktu lama, cobalah pakai telinga kanan dan kiri Anda secara bergantian dan berulang-ulang sehingga bagian kepala yang terkena paparan radiasi tidak hanya satu sisi saja.

Perhatikan Sinyal

Gunakan ponsel hanya bila penerimaan sinyal sedang kuat, kecuali dalam keadaan darurat untuk menggunakannya. Sinyal lemah membuat ponsel bekerja lebih keras, sehingga ponsel memancarkan radiasi yang lebih besar.

meminimalisir dampak ponsel

meminimalisir dampak ponsel

Tidak Menelepon Saat Berkendara

Anjuran ini sering kali kita dengar di mana-mana. Selain karena menelpon saat berkendara dapat mengganggu konsentrasi yang lalu akan menyebabkan kecelakaan lalu lintas, pancaran radiasi dari ponsel dalam kendaraan berjalan pun lebih kuat karena ponsel mengeluarkan energi yang lebih besar saat berusaha menciptakan koneksi berulang ke menara berikutnya. Apalagi berkendara dalam kendaraan yang melaju sangat kencang, seperti kereta api.

Kurangi Penggunaan Ponsel dalam Ruang Tertutup Berbahan Logam atau Baja

Contohnya adalah di dalam mobil dan lift. Dalam ruangan seperti ini ponsel harus bekerja keras menstabilkan koneksi, sehingga radiasi meningkat. Di samping itu, ada kemungkinan radiasi yang memancar terpantul kembali ke pengguna ponsel.

Mengaktifkan Speaker atau Menggunakan Handsfree

Mengaktifkan speaker saat menelepon akan mengurangi energi atau tingkat bahaya radiasi ponsel karena ponsel tidak perlu terus menerus bersinggungan langsung dengan kepala. Pilihan lainnya adalah gunakan handsfree saat menelepon.

Pilih Ponsel Berlevel SAR Rendah

SAR atau Specific Absorption Rate adalah ukuran kuantitas frekuensi radio yang diserap tubuh.Tidak banyak orang yang peduli akan bahaya radiasi ponsel. Semoga dengan diingatkan terus-menerus mengenai hal ini, akan lebih banyak orang yang memperhatikan cara mereka menggunakan ponsel. Kemajuan teknologi memang seperti sebuah koin, memiliki dampak pada dua sisi, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Tinggal bagaimana tiap individu mampu menyeimbangkan kedua hal tersebut.

 

Artikel oleh Nurfitriani Awanis

images: google