film nasional

film nasional

Apa yang ada di dalam fikiran anda ketika mendengar tentang perfilman indonesia? Buruk?Tragis? Tidak Mendidik?

Perfilman indonesia di masa kini dinilai begitu buruk dengan berbagai aspek negatif karena memang itu kenyataannya, terasa sangat miris bila melihat banyak sekali film nasional yang dirasa kurang mendidik atau bahkan sama sekali tidak mendidik. Menjamurnya film-
film bertemakan hantu, film-film yang banyak menonjolkan sisi vulgar, hingga film-film yang berisikan banyak adegan kekerasan. Sungguh sedih bahwa ternyata moral buruk pemuda – pemudi indonesia secara tidak langsung juga didapat dari karya seni orang Indonesia yang kita tonton dan seharusnya dapat dibanggakan.

Namun terkadang kita tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu tentang kenyataan bahwa dibalik film – film tadi juga begitu banyak film Indonesia yang berkualitas dan perfilman Indonesia juga sedang gencar – gencarnya berkembang seperti The Raid yang mendapat penghargaan internasional, selain itu film –film Indonesia lain yang patut diacungi jempol seperti Habibi Ainun, Sang Penari, Comic 8 dan lain – lain. Itu semua karena masyarakat sudah terlanjur kental berpersepsi “tidak ada film Indonesia yang bagus” sehingga setiap kali ditanya, apa film Indonesia yang bagus saat ini, cenderung angkat bahu dan tidak mau membicarakannya. Masyarakat tidak lagi punya kebanggaan pada film-film Indonesia yang diproduksi dewasa ini.

Produksi dari luar negeri dipandang lebih bagus daripada produk negeri sendiri. Begitulah juga yang terjadi dengan film Indonesia. Sudah kalah nilai produksinya dibanding film luar negeri, diperparah kondisinya dengan mentalitas masyarakat yang membangga – banggakan produk manca negara.

Sikap masyarakat yang terus – menerus meremehkan film indonesia akan membuat karya kita semakin terpuruk dan selamanya kita dianggap tidak akan bisa lebih dibanding karya dari negara lain. Padahal begitu bayak kelebihan – kelebihan yang bisa dieksplor dari para anak muda yang sangat menjanjikan.

Jangankan film layar lebar, kita memiliki karya film pendek yang patut diacungi jempol yang disutradarai oleh anak muda yang bisa kita akses dengan mudah melalui youtube namun tidak pernah kita lakukan. Kita terlalu malu sebagai anak Indonesia yang tinggal di Indonesia kalau harus menonton film Indonesia. Pernahkan kita merasa ingin menonton film Indonesia tetapi gengsi atau takut dibilang “engga banget selera lo nonton film Indonesia”? Lalu siapa yang sebenernya malu – maluin? Kita.

Selain itu, salah satu publisis perfilman dan penulis naskah Prima Rusdi dan Ade Kusumaningrum menambahkan persoalan abainya negara dalam kerja-kerja perfilman Indonesia. Dimana terungkapnya tiga belas pajak yang dibebankan pada proses produksi film, kinerja Lembaga Sensor Film (LSF), seharusnya ada proteksi pada film Indonesia atau terbitnya kebijakan yang pro-kerja kreatif diungkapkan satu demi satu secara detil.

Misalnya negara Perancis memberi proteksi terhadap film buatan negeri sendiri untuk tayang selama sebulan penuh sebelum akhirnya diturunkan dari layar bioskop. Korea punya durasi proteksi yang lebih pendek, yakni selama 21 hari, sedangkan Malaysia 14 hari. Akan tetapi di Indonesia, proteksi ini tidak ada sama sekali sehingga film Indonesia bisa hanya bertahan 1 hari untuk kemudian tidak pernah lagi diputar di bioskop karena alasan ada film luar yang menunggu untuk ditayangkan.

Kita tak perlu memperdulikan setiap kali orang mempersoalkan masa depan perfilman. Yang perlu dilakukan adalah berbuat. Apa yang bisa diperbuat oleh kita sebagai penonton? Sederhana. Mari mulai menonton film-film Indonesia yang bermutu.

Mari kita buka pandangan kita terhadap perfilman Indonesia. Kenapa tidak kita mulai dengan menonton film Indonesia yang menurut kita berkualitas, karena kita tidak akan tahu seperti apa filmnya kalau kita tidak mencoba untuk menonton. Para produsen film tidak akan semangat untuk terus membuat film yang baik kalau kita terus bergelut kepada persepsi yang salah bukannya malah mendukung. Jadi, mari kita mulai membanggakan karya kita `sendiri.

Oleh : Enozva Dwi Razuary

Keywords:

  • apa pendapat anda tentang film indonesia saat ini