k-pop

k-pop

Siapa sih yang tidak mengenal Super junior, SNSD ataupun BIG BANG? Hampir sebagian besar remaja Indonesia tahu dan mengidolakan mereka, bahkan sampai mengikuti tren budaya Korea. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan istilah demam K-pop di Indonesia.

Demam K-pop sudah mewabah di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya konser-
konser K-pop yang pernah diadakan seperti SS4, SM TOWN, Music Bank, Bigbang Alive Tour, dan Blue Moon. Besarnya antusiasme para remaja membuktikan bahwa K-pop sudah mulai dibudayakan. Mengapa ya hal ini dapat terjadi?

Ada dua faktor yang berpengaruh. Yang pertama berkaitan dengan masalah psikologi.  Remaja memang masih berada dalam tahap pencarian jati diri hingga mengidentifikasikan dirinya pada grup idola. “Remaja masih memiliki kecenderungan yang besar dalam mengikuti tren di sekitarnya. Jika di sekitarnya adalah orang-orang yang memfavoritkan budaya K-pop, maka mereka akan lebih mudah untuk ikut ke sana.” Ujar Ike R. Sugianto, Psi, International Licensed Brain Gym.

Faktor yang kedua adalah faktor eksternal. Negara Korea sangat pintar dalam menciptakan suatu tren. Idola-idola K-pop pun dijadikan pemain drama, variety show hingga model untuk pakaian, rambut, dan kosmetik dengan image yang sempurna. Remaja Indonesia akhirnya ikut terjerumus pada gaya ala-ala Korea. Mulai dari cara berpakaian, cara menata rambut, cara dandan, hingga cara berbicara.

Perlu diketahui, budaya K-pop memang dapat memberikan dampak yang baik. Diantaranya adalah membuat para remaja tertarik mempelajari bahasa Korea, sehingga dapat menambah wawasan baru yang bermanfaat. Para remaja juga semakin rajin untuk berolahraga agar tubuhnya kelihatan bagus. Kemudian, banyak bermunculan cover dance yang ikut meramaikan dunia hiburan di indonesia. Selain itu, remaja Indonesia juga dapat terinspirasi dengan kerja keras artis-artis K-pop.

Namun, budaya K-pop juga dapat memberikan dampak yang kurang baik apabila dikonsumsi secara tidak wajar. Maksudnya tidak wajar itu kalau sampai menganggu fungsi hidup sehari- hari. Beberapa dampaknya antara lain, dapat mempengaruhi posisi image. Budaya K-pop pasti tidak jauh dari image yang cantik dan tampan. Hal ini kadang dapat membuat para remaja menjadi kurang percaya diri. Kemudian remaja akan selalu terpaku dan menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang berhubungan dengan K-pop. Selain itu, remaja cenderung sempit dalam pemilihan karirnya. Mereka hanya akan fokus pada bidang hiburan.

Remaja Indonesia boleh-boleh saja mengikuti budaya K-pop, tapi ingat jangan sampai dijadikan sebagai prioritas ya. Tempatkan hiburan sebagai hiburan. Selalu berpikiran terbuka untuk mengambil segala sisi positif dan menjauhkan sisi negatif yang ada. Serta tetaplah menjadi pribadi yang menganut budaya Indonesia.

 

Artikel oleh Vivin vallencia