“But first, let me take a selfie!”

Anda pasti tidak merasa asing ketika melihat atau mendengar kalimat diatas. Kalimat diatas merupakan penggalan kalimat dari lirik lagu yang berjudul “Selfie” yang dinyanyikan oleh grup band The Chainsmokers. Lagu tersebut bercerita tentang kehidupan seorang wanita yang sedang dekat dengan seorang pria. Dalam kehidupan percintaannya ia mengalami berbagai masalah. Namun di tengah-tengah permasalahannya, ada satu hal yang selalu ia lakukan yaitu foto selfie tanpa peduli akan masalah yang sedang ia alami. Mengabadikan momen dalam hal ini adalah foto dirinya sendiri merupakan hal yang selalu diutamakan.

Selfie, Hal itulah yang kini sangat sering ditemui dikalangan masyarakat akhir-akhir ini. Tapi, tahukah Anda apa makna dari kata selfie itu sendiri? Selfie atau ajang foto diri sendiri merupakan satu aktifitas dimana seseorang merasa suka dan merasa perlu mengabadikan setiap momen yang mereka alami, namun bukan momen yang mereka tonjolkan dalam hal ini, melainkan foto diri dimana mereka terlibat dalam momen tersebut. Biasanya orang melakukan selfie dengan menggunakan kamera atau smartphone yang dilengkapi dengan kamera dan aplikasi untuk mengedit hasil jepretan kamera tersebut. Ajang foto diri ini juga sering disebut sebagai ajang narsisme dimana seseorang berusaha menonjolkan diri mereka dalam foto selfienya dan biasanya mereka akan memamerkannya di jejaring sosial.

Pada akhir 2013 lalu, kata selfie resmi tercantum dalam Oxford English Dictionary, bahkanpada November 2013 kata yang diakui berasal dari Australia ini menyabet gelar sebagai Word of The Year pada tahun 2013 karena saking banyanya orang yang menggunakan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari.Fenomena selfie atau mengambil foto diri sendiri sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu. Selfie pertama kali dilakukan pada tahun 1900 dan biasanya dilakukan di depan cermin. Hal tersebut dilakukan oleh putri kekaisaran Rusia, Anastasia Nikolaevna, yang mengambil foto dirinya sendiri di depan cermin untuk dikirimkan kepada temannya.

celebrity take a selfie

celebrities take a “selfie”

Sumber foto: www.vogue.co.uk

Tahun berganti, fenomena selfie kini kembali muncul ke permukaan. Semua orang kini gemar melakukan foto diri atau selfie. Fenomena selfie ini sempat membuat heboh ketika artis Hollywood, Ellen De Generes bersama beberapa artis papan atas lainnya melakukan aksi selfie di tengah acara malam penganugerahan piala Oscar beberapa waktu lalu. Foto selfie ini menarik minat jutaan orang untuk melihatnya dan banyak menuai pengaruh positif dari masyarakat luas.

Selfie sebagai ajang pembuktian diri?

Seseorang dapat melakukan selfie dimanapun dan kapanpun mereka inginkan. Biasanya orang akan melakukan selfie ketika mereka sedang berlibur, belanja, di dalam mobil, di kamar mandi, atau bahkan ketika seseorang akan tidur di malam hari tidak jarang yang melakukan aksi selfie. Selain itu, selfie juga terkadang dilakukan ketika seseorang sedang merasa bosan, seperti contohnya adalah ketika sedang bosan belajar di kelas, macet di jalan, atau menunggu seseorang, aksi selfie terbuktimampu membantu mengurangi rasa kebosanan tersebut. Pose yang dipakai dalam melakukan aksi selfie pun beragam. Masyarakat bebas berekspresi ketika melakukan aksi tersebut.

Melihat beberapa fenomena selfie dan penjelasan diatas, apa sebenarnya motif seseorang melakukan selfie? Apakah hanya sebagai pengusir rasa kebosanan dan wadah kebebasan berekspresi, atau mungkin ada alasan lain seperti sebagai ajang pembuktian diri misalnya. Setiap orang bebas melakukan selfie sesuai dengan keinginan mereka. Tidak ada larangan khusus bagi mereka untuk melakukan hal tersebut selama tidak merugikan orang lain.

“Picture speaks a thousand words”. Perumpamaan tersebut sepertinya sesuai dengan fenomena selfie yang terjadi di kalangan masyarakat dimana beberapa diantaranya menggunakan aksi tersebut sebagai ajang pembuktian diri. Hal tersebut ditandai dengan semakin menjamurnya foto selfie di jejaring sosial dimana semua orang kini telah memilikinya. Orang melakukan selfie kemudian mengunggahnya di jejaring sosial yang mereka miliki dan berharap banyak orang akan melihat dan memberikan komentar mengenai foto selfie tersebut. Seperti contohnya adalah ketika ada seorang wanita yang dalam kehidupan sehari-harinya dikenal sebagai seorang pendiam dan cenderung diacuhan oleh lingkungannya akan berlaku berbeda ketika ia menggunakan jejaring sosialnya, dalam hal ini adalah dengan melakukan selfie. Misalnya dalam kasus ini orang tersebut melakukan selfie dengan pose yang terkesan “berani” dan menantang yang seharusnya disimpan dan digunakan hanya untuk kepentingan pribadi mampu membuktikan bahwa ia ingin mendapatan pengakuan dari lingkungannya. Contoh lainnya adalah ketika seorang pria atau wanita melakukan selfie yang menonjolkan wajah atau tubuh indahnya yang kemudian diunggah dalam jejaring sosial yang mereka miliki biasanya ingin mendapatkan pengakuan bahwa merea memiliki bentuk tubuh dan wajah yang banyak diidamkan oleh orang lain. Dari beberapa contoh tersebut dapat menjelaskan bahwa beberapa orang menggunakan selfie sebagai ajang pembuktian diri mereka agar mendapat pengakuan dari masyarakat.

Namun terlepas dari semua itu, selfie bukanlah suatu kegiatan negatif yang harus dijauhi oleh masyarakat selama mereka melakuan aksi tersebut secara bijak dan tidak untuk merugikan orang lain. Sisi positif yang bisa kita dapatkan dari fenomena selfie adalah kita dapat mengabadikan momen indah baik yang dialami oleh diri sendiri atau bersama teman-teman untuk dapat selalu dikenang.

 

Artikel oleh Ingga Mawardy