go internasional dengan bahasa mandarin

go internasional dengan bahasa mandarin

picture source: google

Bahasa mandarin merupakan salah satu bahasa internasional selain bahasa inggris. Bahasa mandarin kini telah menjadi sebuah kebutuhan penting bagi siapapun yang ingin bertahan dari ketatnya persaingan kompetensi di era pasar bebas. Sekalipun tergolong sebagai bahasa paling sulit didunia, bahasa mandarin tetap menjadi pilihan pertama bagi mereka yang belajar bahasa asing dan untuk dapat go internasional dalam bidang ini (Chinese as foreign language). Bukan hanya di Indonesia atau asia saja, bahasa mandarin juga makin banyak diminati para pelajar dan mahasiswa di benua afrika, eropa, dan amerika.

Perusahaan besar dan menengah cina kian melanjutkan usaha mereka dalam memperbesar perusahaan mereka termasuk ke Negara Indonesia. Hal tersebut telah menciptakan lapangan pekerjaan yang terjamin bagi warga-warga Negara Indonesia lulusan sastra cina. Lapangan pekerjaan tersedia di sektor-sektor seperti perbankan, pertambangan, konveksi, teknologi, dan lainnya. Tentu saja pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga kerja Indonesia dengan kemampuan komunikasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa mandarin yang baik. Hal ini telah disadari juga oleh negara-negara maju dan mereka memberikan banyak dana untuk mendorong sekolah-sekolah dan universitas untuk mengadakan dan meningkatkan kualitas program studi bahasa mandarin. Bagaimana dengan pendidikan bahasa mandarin di Indonesia khususnya di daerah kecil?

Pendidikan bahasa mandarin di daerah kecil tidak lepas dari bantuan dan dukungan pemerintah dan juga yayasan-yayasan yang bergelut dalam bidang bahasa mandarin. Dengan mempelajarai bahasa ini, anak-anak Indonesia yang berada didaerah kecil yang mampu maupun yang tidak mampu dalam unsur material dapat ikut berjuang untuk go internasional dan dapat melanjutkan studi bahasa mandarin mereka ke luar negeri terutama ke cina melalu prestasi mereka masing-masing dan dapat memudahkan mereka untuk mencari pekerjaan di Indonesia maupun di luar negri.

Di Bengkayang-Kalimantan barat, ada satu yayasan yang bergelut di bidang pendidikan bahasa mandarin yaitu yayasan Dharma Bakti Persada Bengkayang. Yayasan ini membantu anak-anak tanpa memandang suku, etnis, maupun budaya setiap anak dalam mengajarkan pendidikan bahasa mandarin untuk mewujudkan impian mereka agar dapat melanjutkan pendidikan mereka ke negeri cina. Melalui rekomendasi dari yayasan Dharma Bakti Persada Bengkayang bekerja sama dengan yayasan besar lainnya di Jakarta, mereka mewujudkan impian anak-anak daerah untuk dapat go internasional dengan mengirimkan anak-anak berprestasi dalam bidang pendidikan bahasa mandarin ke negeri cina tanpa mereka harus mengeluarkan biaya sedikitpun agar anak-anak ini dapat melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih banyak yang dapat mereka pelajari.

“Dari tahun 2004-2012 sudah ada 7 anak dengan suku, etnis, dan budaya yang beragam yang kami kirimkan ke universitas yang berbeda-beda di cina. Pada tahun 2004, 2005, dan 2007 kami mengirim 3 anak bersuku Tiong hua ke universitas Xie men, Jin an, dan Ho pei . Tahun 2006 dan 2012 kami mengirim 2 anak bersuku melayu ke universitas Jin nan dan San tung. Dan pada tahun 2006 dan 2007 kami mengirim 2 anak bersuku dayak ke universitas Pe king dan San tung. Dengan begini mereka dapat melanjutkan studi bahasa mandarin mereka ke negeri asal bahasa ini, dan dapat memperluas pengetauan mereka dalam bidang ini.” Kata ketua yayasan Dharma Bakti Persada Bengkayang, Bapak Maksar Alek, SE.

Setiap anak memiliki impian masing-masing untuk dapat menjadi sukses dalam bidang bahasa mandarin. Bukan hanya anak-anak di kota saja tetapi anak-anak di daerah kecil juga memiliki impian tersebut. Maka dari itu mari tingkatkan pendidikan berbahasa mandarin di daerah-daerah kecil lainnya agar dapat menambah bibit-bibit prestasi anak Indonesia didalam bidang ini dan dapat mempermudah anak-anak ini mendapatkan pekerjaan, sehingga dapat juga mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia.

 

 

Jessi Frorensia

STIKOM London School of Public Relations-Jakarta