Melepaskan diri dari makanan berlemak, mungkinkah? Bukan apa-apa selama ini kan lidah kita sudah dimanjakan oleh lezatnya makanan kaya lemak. Steik, ayam goring, beef burger, kambing guling, sup buntut, sepotong cake coklat. Hmmmm sungguh enaknya…

Lezatnya makanan tersebut ternyata tak sebanding dengan manfaat yang kita peroleh. Enaknya hanya sepanjang lidah kita, namun efeknya sepanjang masa.

Meski pada dasarnya tubuh mengandung lemak, yang berfungsi sebagai sumber energy, namun tubuh memiliki kapasitas tak terbatas dalam menyimpan kelebihan lemak (dari makanan). Mengapa? Karena struktur kimia dalam tubuh kita dengan lihai mengubah lemak makanan yang berlebihan menjadi lemak tubuh. Misalnya , sepotong kambing guling sama besarnya dengan lemak di balik kulit kita. Oh noooo, ternyata banyak sekali.

Makanan kaya lemak yang kita konsumsi tidak secara otomatis terbakar dalam tubuh, sebagian besar akan disimpan sebagai lemak tubuh. Kabar buruknya, di mana ada lemak di situ terdapat kolesterol, yang notabenenya merugikan kesehatan.

Tak perlu diet ketat

Mengapa demikian? Karena diet ketat lemak tidaklah dianjurkan, lemak dalam jumlah kecil tetap diperlukan, terutama untuk melarutkan vitamin yang larut dalam vitamin (vitamin A, D, E, K) serta melindungi organ tubuh bagian dalam.

Yang Anda perlukan adalah mengatur pola makan. Misalnya dengan memilah dan memilih mana lemak ‘baik’ (lemak tak jenuh) dan lemak ‘tak baik’ (lemak jenuh). Misalnya dengan memilih lemak nabati ketimbang lemak hewani. Lebih baik memilih minyak jagung daripada minyak kelapa.

Hindari makan malam

Waktu makan juga menentukan berapa banyak lemak yang ditimbun oleh tubuh. Kemampuan tubuh membakar makanan paling efektif pada pagi hari dan turun secara perlahan sepanjang siang, dan merosot  drastis di malam hari.

Makanan yang disantap lebih pagi lebih efisien diubah menjadi energy dibandingkan sore atau malam hari. Karenanya , semakin sore pilihlah makanan yang rendah lemak, seperti buah, sayur, sereal, yoghurt rendah lemak.

Makanan berlemak memang enak, tapi jangan manjakan kenikmati yang sesaat dengan mengorbankan kesehatan. Ini dibuktikan oleh gaya hidup orang tua saya.