Hidup di dunia modern membuat kita berisiko oksigen yang kita hirup dari udara semakin tercemar. Kekurangan oksigen kronis tanpa kita sadari dapat menurunkan kemampuan metabolisme tubuh. Gejalanya mudah lelah, pegal-pegal, mengantuk dan menurunnya kekebalan tubuh sehingga kita mudah terserang penyakit.

Selain pasokan oksigen dari udara bersih yang berkurang, kekurangan asupan oksigen juga disebabkan penurunan daya serap tubuh terhadap oksigen karena terbatasnya cairan tubuh. Misalnya, hidup dilingkungan panas maupun dalam ruang ber-AC.

Prof.Dr.A. Pakdaman, seorang ahli bedah jantung dan peneliti di Heinrich University of Duseldorf, Jerman , pada 1967 menemukan solusi praktis dengan terapi oksigen oral (peroral oxygen theraphy) untuk mengatasi penurunan kemampuan metabolism tubuh. Air beroksigen dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan air sekaligus.

Dari sifat air yang dapat menyerap oksigen lewat jenuh (hypersaturated) melalui cara khusus, didapatkan air beroksigen yang mangandung kadar oksigen tinggi. Bila air biasa mengandung oksigen 5-7 ppm dan air pegunungan lebih dari 10 ppm, dengan proses dioksigenasi diperoleh air yang mengandung oksigen tinggi hingga 80 ppm.

Untuk mencegah kebocoran oksigen, air beroksigen itu memerlukan kemasan khusus yang kedap. Misalnya botol PET (polyethylene terephtalate) yang tebal dengan penutup berlapis ganda pada bagian dalam. Seperti ban mobil berisi udara, kemasan air beroksigen tinggi akan terasa keras bila ditekan, dan begitu dibuka tutupnya akan keluar gas oksigen tersebut.

Apakah oksigen tinggi itu tidak mengganggu tubuh? Oksigen yang terperangkap di dalam air yang mengalami proses dioksigenasi adalah oksigen murni, bukan dalam bentuk proksida atau ozon, sehingga aman bagi tubuh. Penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat IPB Bogor , menunjukkan air beroksigen justru dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri probiotik (flora usus yang membantu proses pencernaan), sehingga dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen penyebab penyakit .

Keywords:

  • ciri ciri air beroksigen
  • proses dioksigenasi