jakarta banjir

jakarta banjir

Beberapa tahun ini, ibukota negara kita (Jakarta) sering terkena musibah banjir. Bencana alam ini seolah menjadi rutin hinggap di ibukota tercinta. Sehingga, selain melumpuhkan kegiatan harian, perekonomian, serta mengakibatkan dampak memburuknya kesehatan masyarakat. Banjir datang tentunya bukan tanpa sebab. Yang dibutuhkan saat ini adalah manusia khususnya masyarakat Jakarta harus berintropeksi diri dan membenahi sikap.

Air mengalir pasti dari hulu menuju ke hilir. Dari dataran yang lebih tinggi menuju ke dataran yang lebih rendah yang berujung kembali ke sungai dan laut. Nah, jika semua jalan air ditutupi oleh “gunung-gunung beton” alias gedung dan bangunan yang tidak memperhatikan saluran air, kurangnya “ruang hijau”, serta gunungan sampah dimana-mana. Lalu bagaimana air dapat lewat untuk kembali ke laut?

Berikut ini langkah sederhana guna mencegah banjir, yang dapat anda lakukan di rumah, lingkungan sekitar tempat tinggal dan ditempat dimana aktifitas harian anda.

1. Buang sampah pada tempatnya

Mohon diingat dan saling mengingatkan dengan kesadarannya, budayakan membuang sampah pada tempat sampah, bak sampah, tong sampah. Lebih baik lagi, jika tempat sampah disendirikan antara sampah organik, kertas, kaleng/botol/plastik. Hal ini untuk memudahkan proses pengomposan dan proses daur ulang. Ini dapat anda lakukan mulai dari lingkup rumah anda sendiri. Lalu, jika tempat tinggal anda dekat dengan sungai, jangan sekali-sekali membuang sampah rumah tangga maupun sampah yang lain di sungai/selokan/saluran air/got/kali.¬† Hal ini mungkin dianggap praktis, sampah akan hilang sendiri terbawa arus air. Jangan salah, jika penduduk kota ada 1000 orang. Coba bayangkan jika 1000 orang melakukan hal yang sama. Bukannya sampah terbawa arus, malah akan menyumbat saluran air di sungai. Akibatnya terjadilah pendangakalan sungai/kali, bahkan yang tadinya lautan air menjadi lautan sampah. Nah, giliran datang hujan deras terus menerus, air akan lewat kemana, jika tidak di jalan rumah/tempat tinggal Anda? ūüôā

2. Menanam pohon

Budayakan untuk menanam pohon di halaman rumah anda, di sekitar halaman lingkungan tempat tinggal anda atau tempat anda bekerja (kantor), sekolah, rumah sakit, di tepi jalan (trotoar) dll. Pohon sangat berguna untuk paru-paru kota, selain menyerap polusi udara, meredam panas/agar rindang (berlindung dari terik matahari), akar pohon juga mampu menyerap air, menyimpannya di dalam tanah yang secara tidak langsung juga mencegah terjadinya banjir.

3. Pentingnya kegiatan kebersihan yang berkala

Hendaknya kita menjaga lingkungan sekitar rumah kita, terutama untuk selokan dan saluran air. Menggalakkan kerja bakti rutin dalam rangka menjaga kebersihan lingkungan, selokan, saluran air, gorong-gorong, sungai, kali, dsb. Jika bukan kita semua sebagai warga, siapa lagi yang peduli dengan lingkungan kita? Jangan sampai banjir salah alamat mampir dan nongkrong di halaman rumah kita atau bahkan sampai di dalam rumah kita.

4. Buat lubang resapan biopori (LRB)

Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Dicetuskan pertama kali oleh Ir. Kamir R Brata, M.Sc,  peneliti dari Institut Pertanian Bogor. Biopori sendiri merupakan lubang yang dengan diameter 10-30 cm dengan kedalaman 30-100 cm (atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah) yang diisi sampah organik untuk menghidupkan mikroorganisme tanah, seperti cacing. Cacing tanah ini yang kemudian akan membentuk pori-pori atau terowongan dalam tanah (biopori) yang dapat mempercepat resapan air ke dalam tanah secara horizontal, sehingga berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan. Tempat-tempat yang dibuat lubang biopori biasanya pada saluran air hujan, pada tanah kosong ataupun di halaman. Pembuatan Lubang Biopori adalah dengan cara membuat lubang di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm, bagian mulut lubang diperkuat (dapat digunakan semen sebagai penguat pinggirannya dan diberi kawat nyamuk), lubang tersebut diisi dengan sampah organik yang berupa dedaunan dan sejenisnya yang nantinya dapat diambil dan dijadikan sebagai kompos alami.

Lubang Resapan Biopori

Lubang Resapan Biopori

5. Melestarikan area hijau

Salah satu cara sederhana dan penting untuk mencegah terjadinya bencana banjir adalah dengan melestarikan area hijau. Usahakan di setiap wilayah kota, di tepi jalan raya, di setiap di sudut-sudut wilayah kota harus ada “area hijau”, dimana tidak boleh berdiri bangunan apapun (perumahan, perkantoran, pertokoan,¬† ruko, mall, dll). Ini sangat penting, karena jika setiap lahan kosong dijadikan sebuah bangunan, tentu hal ini akan berbahaya jika waktu musim hujan. Karena air akan terjebak oleh bangunan-bangunan tersebut.

6. Perhatikan drainase air 

Jika suatu pengembang properti, instansi, perusahaan atau individu akan mendirikan suatu bangunan, yang pertama saat membuat rancangan bangunan harus memperhatikan drainase air, gorong-gorong, pembuangan dan saluran air. Usahakan selokan dibuat sedalam dan selebar mungkin. Jika takut terlalu dalam dan berbahaya untuk anak-anak, bisa ditutup dengan besi berlubang agar tidak membahayakan (terperosok/terjeblos didalamnya). Drainase dan saluran air sangat penting, terutama untuk menangkal banjir yang datang di musim hujan.[e_SdS]

Semoga bermanfaat

 

 

Keywords:

  • Untuk mencegah bencana banjir kita perlu menggalakan
  • untuk mencegah bencana banjir kita perlu menggalakkan
  • untuk mencegah banjir kita perlu menggalakan
  • untuk mencegah banjir kita perlu menggalakkan
  • cara penanganan banjir di dataran rendah
  • cara menanggulangi banjir dirumah
  • cara mengatasi banjir daei dataran tinggi ke dataran rendah
  • upaya penanggulangan banjir didataran rendah